Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
Celaan Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu terhadap shufiyah
Shufiyah bukanlah pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu. Di antara buktinya adalah banyaknya celaan dari Al-Imam Asy-Syafi’i dan lainnya terhadap mereka.
Al-Imam Al-Baihaqi rahimahullahu meriwayatkan dengan sanadnya sampai Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu: “Jika seorang belajar tasawuf di pagi hari, sebelum datang waktu dhuhur engkau akan dapati dia menjadi orang dungu.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu juga mengatakan, “Aku tidak pernah melihat seorang shufi yang berakal. Seorang yang telah bersama kaum shufiyah selama 40 hari, tidak mungkin kembali akalnya.”
Beliau juga berkata, “Azas (dasar shufiyah) adalah malas.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah lil Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu hal. 13-15)
Beliau menamai shufiyah dengan kaum zindiq. Kata beliau rahimahullahu, “Kami tinggalkan Baghdad dalam keadaan orang-orang zindiq telah membuat-buat bid’ah yang mereka namakan sama’ (nyanyian sufi, red.).”
Asy-Syaikh Jamil Zainu berkata, “Orang-orang zindiq yang dimaksud Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu adalah kaum shufiyah.” (Lihat Shufiyah fi Mizan Al-Kitabi was Sunnah)
Celaan Al-Imam Malik rahimahullahu terhadap shufiyah
At-Tunisi mengatakan: Kami berada di sisi Al-Imam Malik, sedangkan murid-murid beliau di sekelilingnya. Seorang dari Nashibiyin berkata: “Di tempat kami ada satu kelompok disebut shufiyah. Mereka banyak makan, kemudian membaca qashidah dan berjoget.”
Al-Imam Malik berkata, “Apakah mereka anak-anak?”
Orang tadi menjawab, “Bukan.”
Beliau berkata, “Apakah mereka adalah orang-orang gila?”
Orang tadi berkata, “Bukan, mereka adalah orang-orang tua yang berakal.”
Al-Imam Malik berkata, “Aku tidak pernah mendengar seorang pemeluk Islam melakukan demikian.”
Celaan Al-Imam Ahmad rahimahullahu terhadap shufiyah
Beliau ditanya tentang apa yang dilakukan shufiyah berupa nasyid-nasyid dan qashidah yang mereka namakan sama’. Beliau berkata, “Itu adalah muhdats (perkara baru yang diada-adakan dalam Islam).” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah boleh kami duduk bersama mereka?” Beliau menjawab, “Janganlah kalian duduk bersama mereka.”
Beliau berkata tentang Harits Al-Muhasibi –dia adalah tokoh shufiyah–, “Aku tidak pernah mendengar pembicaraan tentang masalah hakikat sesuatu seperti yang diucapkannya. Namun aku tidak membolehkan engkau berteman dengannya.”
Celaan Al-Imam Abu Zur’ah rahimahullahu terhadap shufiyah
Al-Hafizh berkata dalam Tahdzib: Al-Bardza’i berkata, “Abu Zur’ah ditanya tentang Harits Al-Muhasibi dan kitab-kitabnya. Beliau berkata kepada penanya, ‘Hati-hati kamu dari kitab-kitab ini, karena isinya kebid’ahan dan kesesatan. Engkau wajib berpegang dengan atsar, akan engkau dapati yang membuatmu tidak membutuhkan apapun dari kitab-kitabnya’.”
Celaan Al-Imam Ibnul Jauzi rahimahullahu terhadap shufiyah
Beliau berkata, “Aku telah menelaah keadaan shufiyah dan aku dapati kebanyakannya menyimpang dari syariat. Antara bodoh tentang syariat atau kebid’ahan dengan akal pikiran.”
Marwan bin Muhammad rahimahullahu berkata:
“Tiga golongan manusia yang tidak bisa dipercaya dalam masalah agama: shufi, qashash (tukang kisah), dan ahlul bid’ah yang membantah ahlul bid’ah lainnya.”
(Lihat Mukhalafatush Shufiyah, hal.16-18)
Showing posts with label Kajian tentang Sufi. Show all posts
Showing posts with label Kajian tentang Sufi. Show all posts
Saturday, 13 February 2010
Siapakah Sufi?
Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
Kelompok Shufiyah (Sufi) telah menyebar di dunia Islam, sehingga kaum muslimin pun terbagi dua dalam menyikapi mereka. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Agar seseorang bisa menentukan berada di pihak yang mana dan bisa menyikapi mereka dengan benar, hendaknya ia mengetahui hakikat shufiyah yang sebenarnya. Benarkah pengakuan mereka sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu? Apakah mereka sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah?
Untuk mengetahui hakikat mereka tentunya kita harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih disertai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Siapakah Shufiyah?
Perlu diketahui, Shufiyah adalah satu lafadz yang tidak dikenal pada masa sahabat, juga tidak masyhur di masa generasi utama (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Mereka muncul setelah masa tiga generasi utama. Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyebutkan awal mula munculnya shufiyah adalah di Bashrah, Irak. (Lihat Fatawa, 11/5, Haqiqatu Ash-Shufiyah hal. 13)
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya bid’ah tasawuf muncul setelah tahun 200 H. Tasawuf tidak ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di zaman sahabat maupun tabi’in.” (Mushara’ah hal. 376)
Nukilan di atas menunjukkan bahwa shufiyah adalah kelompok baru dalam Islam ini.
Pemikiran Shufiyah
Bila seseorang mau adil menelaah pemikiran dan akidah amalan shufiyah, dia akan dapati banyak sekali pemikiran, akidah, dan amalan shufiyah yang menyimpang dari Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagai bentuk keadilan, marilah kita perhatikan apa yang akan kami paparkan mengenai beberapa penyimpangan prinsip, amalan, dan akidah shufiyah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
1. Shufiyah terpecah menjadi kelompok-kelompok atau thariqat-thariqat (tarekat-tarekat). Ada tarekat Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, dan lainnya. Demikianlah mereka berpecah-belah, padahal Islam melarang perpecahan dan hanya mengenal satu jalan saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)
2. Sebagian shufiyah juga berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka berdoa kepada nabi dan wali mereka yang masih hidup maupun yang telah mati. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu mengatakan: “Barangsiapa memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia adalah musyrik kafir. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mu’minun: 117) [Lihat kitab Tsalatsatul Ushul]
3. Shufiyah meyakini adanya badal dan quthub, yakni orang-orang yang mereka yakini sebagai wali dan diyakini ikut andil mengatur alam1. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, serta siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)
4. Sebagian shufiyah meyakini wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti). Menurut mereka, tidak ada Khalik dan makhluk (Pencipta dan yang dicipta), semuanya adalah makhluk dan semuanya adalah ilah.
5. Shufiyah membolehkan berjoget sambil menabuh rebana dan berdzikir dengan suara keras. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (Al-Anfal: 2)
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu menerangkan: “Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah menerangkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang shufiyah berjoget di Arafah. Beliau melihat mereka berjoget diiringi rebana. Juga melihat mereka berjoget di Masjid Khaif.” (Mushara’ah hal. 388 secara ringkas)
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu juga mengatakan: “Pernah satu hari aku naik ke Masjidil Haram bagian atas. Aku dapati sekelompok besar manusia dari Turki, Sudan, dan Yaman, mereka berjoget sambil berputar-putar2….” (Musharaah hal. 387)
Di antara mereka juga adalah Muhammad Kabbani3, yang berkunjung ke Jakarta dan berdzikir serta mengajak yang hadir berjoget.
Kemudian mereka juga berdzikir dengan semata menyebut lafadz: اللهُ. Sebagian mereka hanya menyebut lafadz hu. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
“Dzikir yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah...” (HR. At-Tirmidzi)
6. Sebagian Shufiyah mengklaim tahu ilmu ghaib, padahal pengetahuan ilmu ghaib adalah kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)
8. Shufiyah mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari cahaya-Nya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Al-Qur’an mendustakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kamu itu adalah Ilah yang Esa’.” (Al-Kahfi: 110)
Firman-Nya tentang penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad: 71)
Adapun hadits: “Yang pertama diciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir.” adalah hadits maudhu’ (palsu).
9. Shufiyah mengklaim bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah dilakukan karena takut kepada neraka atau mengharapkan surga. Mereka berpendapat bahwa ibadah karena mengharapkan surga adalah kesyirikan, sebagaimana diucapkan oleh tokoh mereka Sya’rawi. (Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hal. 20-21)
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (Al-Anbiya: 90)
Ibadah haruslah memenuhi tiga rukunnya: khauf (rasa takut), raja’ (rasa harap), dan mahabbah (rasa cinta).
10. Sebagian Shufiyah mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dunia karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mendustakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yakin (ajal).” (Al-Hijr: 99)
11. Mereka membaca shalawat-shalawat yang tidak diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, yang tak akan diridhai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.4
12. Shufiyah mengklaim bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia. Al-Qur’an menunjukkan kedustaan mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي
Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Al-A’raf: 143) [Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitabi was Sunnah hal. 8-21]
1 Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang syirik. Lain halnya bila yang dimaksud dengan istilah ini tidak sampai pada tingkatan rububiyah (ikut mengatur alam). -red
2 Tarian ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan whirling dervish. Dervish (darwis) adalah sebutan untuk penarinya. -red
3 Muhammad Hisham Kabbani, tokoh tarekat Naqsyabandiyah Haqqani. Oleh media, ia disebut-sebut sebagai “syaikh” sufi paling berpengaruh di dunia saat ini. –red
4 Di antaranya shalawat yang mereka namakan shalawat Nariyah. Ini adalah shalawat yang berisi kesyirikan karena disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan kesusahan, dan menunaikan kebutuhan. (Lihat Al- Firqatun Najiyah)
Source: www.asysyariah.com
Kelompok Shufiyah (Sufi) telah menyebar di dunia Islam, sehingga kaum muslimin pun terbagi dua dalam menyikapi mereka. Ada yang mendukung dan ada yang menentang. Agar seseorang bisa menentukan berada di pihak yang mana dan bisa menyikapi mereka dengan benar, hendaknya ia mengetahui hakikat shufiyah yang sebenarnya. Benarkah pengakuan mereka sebagai pengikut Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu? Apakah mereka sesuai dengan ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah?
Untuk mengetahui hakikat mereka tentunya kita harus merujuk kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman as-salafus shalih disertai penjelasan para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
Siapakah Shufiyah?
Perlu diketahui, Shufiyah adalah satu lafadz yang tidak dikenal pada masa sahabat, juga tidak masyhur di masa generasi utama (sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in). Mereka muncul setelah masa tiga generasi utama. Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyebutkan awal mula munculnya shufiyah adalah di Bashrah, Irak. (Lihat Fatawa, 11/5, Haqiqatu Ash-Shufiyah hal. 13)
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata: “Sesungguhnya bid’ah tasawuf muncul setelah tahun 200 H. Tasawuf tidak ada di zaman Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, di zaman sahabat maupun tabi’in.” (Mushara’ah hal. 376)
Nukilan di atas menunjukkan bahwa shufiyah adalah kelompok baru dalam Islam ini.
Pemikiran Shufiyah
Bila seseorang mau adil menelaah pemikiran dan akidah amalan shufiyah, dia akan dapati banyak sekali pemikiran, akidah, dan amalan shufiyah yang menyimpang dari Islam yang dibawa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagai bentuk keadilan, marilah kita perhatikan apa yang akan kami paparkan mengenai beberapa penyimpangan prinsip, amalan, dan akidah shufiyah dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.
1. Shufiyah terpecah menjadi kelompok-kelompok atau thariqat-thariqat (tarekat-tarekat). Ada tarekat Tijaniyah, Qadiriyah, Naqsyabandiyah, Syadziliyah, Rifaiyah, dan lainnya. Demikianlah mereka berpecah-belah, padahal Islam melarang perpecahan dan hanya mengenal satu jalan saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاَةَ وَلاَ تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ. مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Ar-Rum: 31-32)
2. Sebagian shufiyah juga berdoa kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mereka berdoa kepada nabi dan wali mereka yang masih hidup maupun yang telah mati. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تَدْعُ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِنْ فَعَلْتَ فَإِنَّكَ إِذًا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan janganlah kamu menyembah sesuatu selain Allah yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, maka sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (Yunus: 106)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ
“Doa adalah ibadah.” (Shahih, HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullahu mengatakan: “Barangsiapa memalingkan satu macam ibadah kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala maka dia adalah musyrik kafir. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللهِ إِلَهًا ءَاخَرَ لَا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
“Dan barangsiapa menyembah sesembahan yang lain disamping Allah, padahal tidak ada suatu dalil pun baginya tentang itu, maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Rabbnya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (Al-Mu’minun: 117) [Lihat kitab Tsalatsatul Ushul]
3. Shufiyah meyakini adanya badal dan quthub, yakni orang-orang yang mereka yakini sebagai wali dan diyakini ikut andil mengatur alam1. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ
Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, serta siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati serta mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah, “Mengapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31)
4. Sebagian shufiyah meyakini wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti). Menurut mereka, tidak ada Khalik dan makhluk (Pencipta dan yang dicipta), semuanya adalah makhluk dan semuanya adalah ilah.
5. Shufiyah membolehkan berjoget sambil menabuh rebana dan berdzikir dengan suara keras. Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka.” (Al-Anfal: 2)
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu menerangkan: “Ibnul Qayyim rahimahullahu pernah menerangkan bahwa beliau pernah melihat orang-orang shufiyah berjoget di Arafah. Beliau melihat mereka berjoget diiringi rebana. Juga melihat mereka berjoget di Masjid Khaif.” (Mushara’ah hal. 388 secara ringkas)
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu juga mengatakan: “Pernah satu hari aku naik ke Masjidil Haram bagian atas. Aku dapati sekelompok besar manusia dari Turki, Sudan, dan Yaman, mereka berjoget sambil berputar-putar2….” (Musharaah hal. 387)
Di antara mereka juga adalah Muhammad Kabbani3, yang berkunjung ke Jakarta dan berdzikir serta mengajak yang hadir berjoget.
Kemudian mereka juga berdzikir dengan semata menyebut lafadz: اللهُ. Sebagian mereka hanya menyebut lafadz hu. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:
أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
“Dzikir yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah...” (HR. At-Tirmidzi)
6. Sebagian Shufiyah mengklaim tahu ilmu ghaib, padahal pengetahuan ilmu ghaib adalah kekhususan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللهُ
Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah.” (An-Naml: 65)
8. Shufiyah mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari cahaya-Nya, kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan segala sesuatu dari cahaya Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun Al-Qur’an mendustakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَى إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ
Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: ‘Bahwa sesungguhnya sesembahan kamu itu adalah Ilah yang Esa’.” (Al-Kahfi: 110)
Firman-Nya tentang penciptaan Nabi Adam ‘alaihissalam:
إِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِينٍ
(Ingatlah) ketika Rabbmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (Shad: 71)
Adapun hadits: “Yang pertama diciptakan adalah cahaya Nabimu, wahai Jabir.” adalah hadits maudhu’ (palsu).
9. Shufiyah mengklaim bahwa ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah dilakukan karena takut kepada neraka atau mengharapkan surga. Mereka berpendapat bahwa ibadah karena mengharapkan surga adalah kesyirikan, sebagaimana diucapkan oleh tokoh mereka Sya’rawi. (Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitab was Sunnah hal. 20-21)
Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَوَهَبْنَا لَهُ يَحْيَى وَأَصْلَحْنَا لَهُ زَوْجَهُ إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا وَكَانُوا لَنَا خَاشِعِينَ
Maka Kami memperkenankan doanya dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya dan Kami jadikan istrinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada kami.” (Al-Anbiya: 90)
Ibadah haruslah memenuhi tiga rukunnya: khauf (rasa takut), raja’ (rasa harap), dan mahabbah (rasa cinta).
10. Sebagian Shufiyah mengklaim bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan dunia karena Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala mendustakan mereka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ
“Dan sembahlah Rabbmu sampai datang kepadamu al-yakin (ajal).” (Al-Hijr: 99)
11. Mereka membaca shalawat-shalawat yang tidak diajarkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan shalawat-shalawat yang mengandung kesyirikan, yang tak akan diridhai oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.4
12. Shufiyah mengklaim bisa melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia. Al-Qur’an menunjukkan kedustaan mereka, karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada Nabi Musa ‘alaihissalam:
وَلَمَّا جَاءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنْظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي
Dan tatkala Musa datang untuk (bermunajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Rabbnya telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau.” Allah berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku.” (Al-A’raf: 143) [Lihat Ash-Shufiyah fi Mizanil Kitabi was Sunnah hal. 8-21]
1 Keyakinan seperti ini adalah keyakinan yang syirik. Lain halnya bila yang dimaksud dengan istilah ini tidak sampai pada tingkatan rububiyah (ikut mengatur alam). -red
2 Tarian ini sekarang lebih dikenal dengan sebutan whirling dervish. Dervish (darwis) adalah sebutan untuk penarinya. -red
3 Muhammad Hisham Kabbani, tokoh tarekat Naqsyabandiyah Haqqani. Oleh media, ia disebut-sebut sebagai “syaikh” sufi paling berpengaruh di dunia saat ini. –red
4 Di antaranya shalawat yang mereka namakan shalawat Nariyah. Ini adalah shalawat yang berisi kesyirikan karena disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mampu menghilangkan kesulitan, melapangkan kesusahan, dan menunaikan kebutuhan. (Lihat Al- Firqatun Najiyah)
Source: www.asysyariah.com
Labels:
Kajian tentang Sufi
Sufi Adalah Pengikut Firqah Asy’ariyah
Penulis : Al-Ustadz Abu Abdillah Abdurrahman Mubarak
Barangsiapa menelaah hakikat shufiyah khususnya dalam masalah akidah, niscaya akan mendapati betapa kentalnya hubungan shufiyah dengan akidah Asy’ariyah. Di antara buktinya adalah pemikiran tokoh-tokoh mereka dari zaman dahulu sampai sekarang. Sebelum kita membahas bukti hubungan mereka, mari kita sedikit mengulas siapakah Asy’ariyah?
Sekelumit tentang Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah satu firqah yang dinisbatkan kepada pemahaman Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu sebelum beliau rujuk kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena beliau rahimahullahu mengalami tiga fase dalam kehidupannya:
1. Dibina oleh ayah tiri beliau di atas pendidikan Mu’tazilah
2. Mengkritisi pemikiran-pemikiran ayah tirinya dalam masa pemahaman yang dikenal sekarang dengan paham Asy’ariyah1
3. Rujuk kepada pemahaman ahlul hadits dan menulis buku yang berjudul Al-Ibanah, yang menunjukkan beliau di atas akidah Ahlus Sunnah.
Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Para ulama menyebutkan bahwa Asy-Syaikh Abul Hasan memiliki tiga keadaan:
Pertama: Keadaan di atas manhaj Mu’tazilah yang dia telah rujuk darinya.
Kedua: Menetapkan sifat aqliyah yang tujuh: hayah, ilmu, qudrah, iradah, sam’u, bashir, dan kalam, serta menakwilkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang khabariyah: seperti wajah, dua tangan, kaki, betis, dan lainnya.
Ketiga: Menetapkan semua sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa takyif (membayangkan gambaran tertentu dalam pikiran) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk), mengikuti jalan salaf. Inilah jalan beliau dalam kitabnya Al-Ibanah, kitab terakhir yang beliau tulis.” (lihat muqadimah Kitab Al-Ibanah, hal. 12-13, cet. Darul Bashirah)
Dari keterangan di atas menjadi jelas bahwa pemahaman yang banyak dianut shufiyah sekarang bukanlah paham Abul Hasan Asy’ari rahimahullahu. Karena beliau telah bertaubat darinya dan rujuk kepada madzhab Ahlus Sunnah.
Penjelasan singkat tentang akidah Asy’ariyah sehingga tidak termasuk dari Ahlus Sunnah wal Jamaah
1. Mereka menyatakan bahwa iman hanyalah membenarkan. Mereka tidak menyatakan amal termasuk dari iman dan tidak memvonis kekufuran dengan sebab amalan kekafiran jasmani seseorang.
2. Mereka Jabriyah2 dalam masalah takdir.
3. Mereka tidak menetapkan ‘illat (sebab) dan hikmah bagi perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Tidak menetapkan sifat fi’liyah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala (seperti istiwa’/naik di atas Arsy, nuzul/turun ke dunia pada sepertiga malam yang akhir, dan lainnya).
5. Orang-orang Asy’ariyah setelah masa Abul Ma’ali Al-Juwaini mengingkari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas makhluk-Nya.
6. Tidak menetapkan sifat ma’ani (seperti ilmu, hayat, dll) kecuali tujuh atau lebih. Pijakan mereka dalam menetapkannya adalah akal. Tujuh sifat yang mereka tetapkan pun tidak mereka tetapkan seperti Ahlus Sunnah.
7. Memaknai kalimat tauhid sebatas tauhid rububiyah saja. Mereka tidak mengenal tauhid uluhiyah.
8. Akhir dari pendapat mereka tentang kalamullah: Al-Qur’an adalah makhluk, sebagaimana pendapat Mu’tazilah.
9. Memperlebar masalah karamah hingga menyatakan bahwa mukjizat para nabi mungkin terjadi pada diri para wali.
10. Menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dilihat tidak dari arah tertentu. Hingga akhir ucapan mereka mengingkari ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat).
11. Menyatakan bahwa akal tidak bisa menetapkan baik-buruknya sesuatu.
12. Menyatakan tidak sah keislaman seseorang setelah mukallaf sampai ragu terlebih dahulu. (Disadur dari kitab Takidat Musallamat As-Salafiyah hal. 35-36)
Ulama yang menyatakan Asy’ariyah bukan Ahlus Sunnah
1. Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu
Ibnu Khuzaimah rahimahullahu ditanya oleh Abu Ali Ats-Tsaqafi: “Apa yang kau ingkari, wahai ustadz, dari madzhab kami supaya kami bisa rujuk darinya?”
Ibnu Khuzaimah berkata: “Karena kalian condong kepada pemahaman Kullabiyah. Ahmad bin Hanbal termasuk orang yang paling keras terhadap Abdullah bin Said bin Kullab dan teman-temannya, seperti Harits serta lainnya.”
Perlu diketahui bahwa Kullabiyah adalah masyayikh (guru/pembesar) Asy’ariyah.
Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Kullabiyah adalah guru-guru orang Asy’ariyah….”(Kitab Istiqamah)
2. Ibnu Qudamah rahimahullahu
Beliau rahimahullahu berkata: “Kami tidak mengetahui ada kelompok ahlul bid’ah yang menyembunyikan pemikiran-pemikirannya dan tidak berani menampakkannya, selain zanadiqah (kaum zindiq, orang-orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan, red.) dan Asy’ariyah.”
3. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullahu
Beliau berkata: “Asya’irah dan Maturidiyah serta yang semisal mereka, bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah.”
4. Syaikh Shalih Al-Fauzan pernah ditanya: “Apakah Asy’ariyah dan Maturidiyah termasuk Ahlus Sunnah?”
Beliau menjawab: “Mereka tidak teranggap sebagai Ahlus Sunnah. Tidak ada seorang pun yang memasukkan mereka ke dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka memang menamakan diri mereka termasuk Ahlus Sunnah, namun hakikatnya mereka bukanlah Ahlus Sunnah.”
(Lihat Takidat Musallamat Salafiyah hal. 19-30)
Hubungan Shufiyah dengan Asy’ariyah
Di antara bukti sangat kuatnya akidah Asy’ariyah pada pengikut shufiyah adalah banyaknya tokoh shufiyah yang mendakwahkan pemahaman dan akidah Asy’ariyah.
Di masa sekarang ini, bisa disebut nama Muhammad bin Alwi Al-Maliki, penulis buku Mafahim Yajib An Tushahhah. Dia termasuk dai kuburi shufi asy’ari (yang mengajak manusia mengagungkan kuburan secara berlebihan, beraliran sufi, dan berakidah Asy’ariyah). Inilah sebagian ucapannya:
1. Masalah akidah
Dia berkata dalam kitabnya (hal. 93): “Tidak diragukan lagi bahwa ruh-ruh (orang yang telah meninggal) punya pergerakan dan kebebasan yang memungkinkan menjawab orang yang menyerunya serta memberi pertolongan orang yang meminta tolong kepadanya. Persis sama dengan orang yang hidup, bahkan melebihinya.”
Cukuplah dalam membantah kesesatan ini, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ. إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam serta menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu. Kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu, dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha mengetahui.” (Fathir: 13-14)
2. Masalah manhaj
Dia berkata dalam kitabnya (hal. 120): “Asy’ariyah adalah para imam pembawa petunjuk di antara sekian ulama muslimin.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 20-21)
Di antara bukti kuat adanya pengaruh kuat Asy’ariyah terhadap shufiyah adalah guru-guru, lembaga-lembaga, dan pondok-pondok shufiyah yang mengajarkan pemahaman Asy’ariyah terkhusus dalam masalah akidah seperti:
1. Hanya menetapkan sifat 13 atau 20
2. Menafikan Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas Arsy-Nya (sehingga menyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di mana-mana).
3. Hanya memaknakan kalimat syahadat sebatas tauhid rububiyah (Allah sebagai Pencipta, Pengatur dan Pemberi Rizki alam semesta)
Di antara bukti yang lain akan kuatnya paham Asy’ariyah pada kaum shufiyah adalah bahwa organisasi dan kelompok3 yang notabene beraliran shufiyah menjadikan pemikiran Asy’ariyah sebagai pemikiran organisasinya.
1 Yang sebenarnya mengadopsi pemahaman Kullabiyah. (ed.)
2 Yang menetapkan bahwa makhluk tidak punya kehendak dalam menjalankan hidup ini. (ed.)
3 Salah satu dari kelompok shufiyah masa kini adalah Jamaah Tabligh. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menyatakan: “Jamaah Tabligh adalah shufiyah masa kini. Adapun Ikhwanul Muslimin sangat nampak hubungan mereka dengan shufiyah karena pendirinya, Hasan Al-Banna, adalah seorang pengikut thariqat shufi Al-Hashafiyyah.”
Untuk merinci lebih lanjut tentang kedua kelompok ini, alhamdulillah, pembaca bisa merujuk kepada Majalah Asy Syariah edisi 07 dan edisi 20.
Source: www.asysyariah.com
Barangsiapa menelaah hakikat shufiyah khususnya dalam masalah akidah, niscaya akan mendapati betapa kentalnya hubungan shufiyah dengan akidah Asy’ariyah. Di antara buktinya adalah pemikiran tokoh-tokoh mereka dari zaman dahulu sampai sekarang. Sebelum kita membahas bukti hubungan mereka, mari kita sedikit mengulas siapakah Asy’ariyah?
Sekelumit tentang Asy’ariyah
Asy’ariyah adalah satu firqah yang dinisbatkan kepada pemahaman Abul Hasan Al-Asy’ari rahimahullahu sebelum beliau rujuk kembali kepada manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah. Karena beliau rahimahullahu mengalami tiga fase dalam kehidupannya:
1. Dibina oleh ayah tiri beliau di atas pendidikan Mu’tazilah
2. Mengkritisi pemikiran-pemikiran ayah tirinya dalam masa pemahaman yang dikenal sekarang dengan paham Asy’ariyah1
3. Rujuk kepada pemahaman ahlul hadits dan menulis buku yang berjudul Al-Ibanah, yang menunjukkan beliau di atas akidah Ahlus Sunnah.
Ibnu Katsir Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Para ulama menyebutkan bahwa Asy-Syaikh Abul Hasan memiliki tiga keadaan:
Pertama: Keadaan di atas manhaj Mu’tazilah yang dia telah rujuk darinya.
Kedua: Menetapkan sifat aqliyah yang tujuh: hayah, ilmu, qudrah, iradah, sam’u, bashir, dan kalam, serta menakwilkan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang khabariyah: seperti wajah, dua tangan, kaki, betis, dan lainnya.
Ketiga: Menetapkan semua sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala tanpa takyif (membayangkan gambaran tertentu dalam pikiran) dan tanpa tasybih (menyerupakan dengan makhluk), mengikuti jalan salaf. Inilah jalan beliau dalam kitabnya Al-Ibanah, kitab terakhir yang beliau tulis.” (lihat muqadimah Kitab Al-Ibanah, hal. 12-13, cet. Darul Bashirah)
Dari keterangan di atas menjadi jelas bahwa pemahaman yang banyak dianut shufiyah sekarang bukanlah paham Abul Hasan Asy’ari rahimahullahu. Karena beliau telah bertaubat darinya dan rujuk kepada madzhab Ahlus Sunnah.
Penjelasan singkat tentang akidah Asy’ariyah sehingga tidak termasuk dari Ahlus Sunnah wal Jamaah
1. Mereka menyatakan bahwa iman hanyalah membenarkan. Mereka tidak menyatakan amal termasuk dari iman dan tidak memvonis kekufuran dengan sebab amalan kekafiran jasmani seseorang.
2. Mereka Jabriyah2 dalam masalah takdir.
3. Mereka tidak menetapkan ‘illat (sebab) dan hikmah bagi perbuatan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
4. Tidak menetapkan sifat fi’liyah bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala (seperti istiwa’/naik di atas Arsy, nuzul/turun ke dunia pada sepertiga malam yang akhir, dan lainnya).
5. Orang-orang Asy’ariyah setelah masa Abul Ma’ali Al-Juwaini mengingkari bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas makhluk-Nya.
6. Tidak menetapkan sifat ma’ani (seperti ilmu, hayat, dll) kecuali tujuh atau lebih. Pijakan mereka dalam menetapkannya adalah akal. Tujuh sifat yang mereka tetapkan pun tidak mereka tetapkan seperti Ahlus Sunnah.
7. Memaknai kalimat tauhid sebatas tauhid rububiyah saja. Mereka tidak mengenal tauhid uluhiyah.
8. Akhir dari pendapat mereka tentang kalamullah: Al-Qur’an adalah makhluk, sebagaimana pendapat Mu’tazilah.
9. Memperlebar masalah karamah hingga menyatakan bahwa mukjizat para nabi mungkin terjadi pada diri para wali.
10. Menetapkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala dilihat tidak dari arah tertentu. Hingga akhir ucapan mereka mengingkari ru’yah (bahwa kaum mukminin akan melihat Allah Subhanahu wa Ta’ala di hari kiamat).
11. Menyatakan bahwa akal tidak bisa menetapkan baik-buruknya sesuatu.
12. Menyatakan tidak sah keislaman seseorang setelah mukallaf sampai ragu terlebih dahulu. (Disadur dari kitab Takidat Musallamat As-Salafiyah hal. 35-36)
Ulama yang menyatakan Asy’ariyah bukan Ahlus Sunnah
1. Al-Imam Ahmad bin Hambal rahimahullahu
Ibnu Khuzaimah rahimahullahu ditanya oleh Abu Ali Ats-Tsaqafi: “Apa yang kau ingkari, wahai ustadz, dari madzhab kami supaya kami bisa rujuk darinya?”
Ibnu Khuzaimah berkata: “Karena kalian condong kepada pemahaman Kullabiyah. Ahmad bin Hanbal termasuk orang yang paling keras terhadap Abdullah bin Said bin Kullab dan teman-temannya, seperti Harits serta lainnya.”
Perlu diketahui bahwa Kullabiyah adalah masyayikh (guru/pembesar) Asy’ariyah.
Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata: “Kullabiyah adalah guru-guru orang Asy’ariyah….”(Kitab Istiqamah)
2. Ibnu Qudamah rahimahullahu
Beliau rahimahullahu berkata: “Kami tidak mengetahui ada kelompok ahlul bid’ah yang menyembunyikan pemikiran-pemikirannya dan tidak berani menampakkannya, selain zanadiqah (kaum zindiq, orang-orang yang menyembunyikan kekafiran dan menampakkan keimanan, red.) dan Asy’ariyah.”
3. Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Utsaimin rahimahullahu
Beliau berkata: “Asya’irah dan Maturidiyah serta yang semisal mereka, bukanlah Ahlus Sunnah wal Jamaah.”
4. Syaikh Shalih Al-Fauzan pernah ditanya: “Apakah Asy’ariyah dan Maturidiyah termasuk Ahlus Sunnah?”
Beliau menjawab: “Mereka tidak teranggap sebagai Ahlus Sunnah. Tidak ada seorang pun yang memasukkan mereka ke dalam Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka memang menamakan diri mereka termasuk Ahlus Sunnah, namun hakikatnya mereka bukanlah Ahlus Sunnah.”
(Lihat Takidat Musallamat Salafiyah hal. 19-30)
Hubungan Shufiyah dengan Asy’ariyah
Di antara bukti sangat kuatnya akidah Asy’ariyah pada pengikut shufiyah adalah banyaknya tokoh shufiyah yang mendakwahkan pemahaman dan akidah Asy’ariyah.
Di masa sekarang ini, bisa disebut nama Muhammad bin Alwi Al-Maliki, penulis buku Mafahim Yajib An Tushahhah. Dia termasuk dai kuburi shufi asy’ari (yang mengajak manusia mengagungkan kuburan secara berlebihan, beraliran sufi, dan berakidah Asy’ariyah). Inilah sebagian ucapannya:
1. Masalah akidah
Dia berkata dalam kitabnya (hal. 93): “Tidak diragukan lagi bahwa ruh-ruh (orang yang telah meninggal) punya pergerakan dan kebebasan yang memungkinkan menjawab orang yang menyerunya serta memberi pertolongan orang yang meminta tolong kepadanya. Persis sama dengan orang yang hidup, bahkan melebihinya.”
Cukuplah dalam membantah kesesatan ini, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى ذَلِكُمُ اللهُ رَبُّكُمْ لَهُ الْمُلْكُ وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ. إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
“Dia memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam serta menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. Yang (berbuat) demikian itulah Allah Rabbmu, kepunyaan-Nyalah kerajaan. Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu. Kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan di hari kiamat mereka akan mengingkari kesyirikanmu, dan tidak ada yang dapat memberi keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Yang Maha mengetahui.” (Fathir: 13-14)
2. Masalah manhaj
Dia berkata dalam kitabnya (hal. 120): “Asy’ariyah adalah para imam pembawa petunjuk di antara sekian ulama muslimin.” (Lihat Mukhalafatush Shufiyah hal. 20-21)
Di antara bukti kuat adanya pengaruh kuat Asy’ariyah terhadap shufiyah adalah guru-guru, lembaga-lembaga, dan pondok-pondok shufiyah yang mengajarkan pemahaman Asy’ariyah terkhusus dalam masalah akidah seperti:
1. Hanya menetapkan sifat 13 atau 20
2. Menafikan Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas Arsy-Nya (sehingga menyatakan Allah Subhanahu wa Ta’ala ada di mana-mana).
3. Hanya memaknakan kalimat syahadat sebatas tauhid rububiyah (Allah sebagai Pencipta, Pengatur dan Pemberi Rizki alam semesta)
Di antara bukti yang lain akan kuatnya paham Asy’ariyah pada kaum shufiyah adalah bahwa organisasi dan kelompok3 yang notabene beraliran shufiyah menjadikan pemikiran Asy’ariyah sebagai pemikiran organisasinya.
1 Yang sebenarnya mengadopsi pemahaman Kullabiyah. (ed.)
2 Yang menetapkan bahwa makhluk tidak punya kehendak dalam menjalankan hidup ini. (ed.)
3 Salah satu dari kelompok shufiyah masa kini adalah Jamaah Tabligh. Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullahu menyatakan: “Jamaah Tabligh adalah shufiyah masa kini. Adapun Ikhwanul Muslimin sangat nampak hubungan mereka dengan shufiyah karena pendirinya, Hasan Al-Banna, adalah seorang pengikut thariqat shufi Al-Hashafiyyah.”
Untuk merinci lebih lanjut tentang kedua kelompok ini, alhamdulillah, pembaca bisa merujuk kepada Majalah Asy Syariah edisi 07 dan edisi 20.
Source: www.asysyariah.com
Labels:
Kajian tentang Sufi
Subscribe to:
Posts (Atom)
